27 Jan 2011

Esok Masih Ada


Tak layak yang bisa di ceritakan lagi,berlalu seperti angin. Bila suatu saat nanti kehidupan ini menjadi baik,ingin ku gengam semuanya erat-erat. Tak perduli apa kata mereka,kebanyakan dari kita memang hanya bisa mengeluarkan sumburan lumpur, yang tak perduli akibat dari lumpur menyapu rata semua dahan-dahan yang telah tumbuh mekar. Bila nanti semak belukar telah di ubah menjadi gedung-gedung megah, pada saat itulah nasip kita akan di pertimbangkan. Ataukah gedung-gedung mewah nan megah itu akan di rubah menjadi puing-puing.

Mulut kini harus tertutup rapat, namun apa daya,pikiran terlalu brutal ingin mengapai puncak penemuan yang berharap. Seperti sebuah lantunan lagu “walau ingin hati mu memeluk gunung,manalah mungkin tangan tak sampai. Walau ingin hatimu memetik bintang, apalah daya tanggan tak sampai. Biarlah yang hitam menjadi hitam”. Jauh, sungguh jauh. Hanya lantunan lagu yang kudengar samar-samar,telebihnya terdengar samar-samar. Daun itu merindukan angin untuk meniupnya, menginginkan belalang menghinggapinya, hingga iyapun bisa bermain ceria di tengah dataran kosong yang tak bertulang, tak bisakah berhenti sejenak, hanya sekedar memikirkan daun yang tumbuh di padang gersang??. pemuas senyum kini pergi melalang buana entah kemana, haripun semakin terbang meninggalkan terang, mungkinkah burung kembali kesarangnya. Duhai, anak tunggulah ibu mu yang sebentar lagi akan tiba. Membawakan rindu dan kasih sayang seperti malam-malam lalu, memeluk mu erat dalam genggaman kasih sayang tulus.

Esok kaupun akan pergi meninggalkan sarang itu, buatlah diri mu besar, tak perlu sebesar pikiran mereka yang tak selalu benar, secukupnya saja, sekedar hanya menemani mu jalan, menunjukkan belokan dan tekungan. Berlari perlahan tak perlu terlalu cepat, secepat mereka, sekedarnya saja, asalkan bisa sampai batas berhenti. Tapi masih banyak yang mesti kau lalui, mungkin juga baik, mungkin juga tidak, hanya sekedar mengabarkan hati. Kalaupun tak ingin merimanya takan jadi masalah, toh kehidupan meski terus berlanjut. Sudah banya yang di bisikkan, tak percaya harus seperti apa baiknya. Banyak atau satu telah memberitahu semuanya. Satu tak akan membuat binggung, banyak akan menyulitkan pilihan. Yahhh tak harus seperti itu, cukup seperti ideal. Mari bernyanyi, mari menari, mari berdendang dalam kesunyian yang hampir abadi dalam setiap jiwa kosong. Kadang kosong, kadang hilang, kadang dating, kadang sangat dekat, dan kadang tak bisa terlupakan.

Uuuhhhhh… teralu larut untuk semua ini terjadi, mestinya semenjak pagi tadi, sebelum setiap orang terbangun dari tidurnya dan menikmati embun itu. Esok mungkin lebih pagi, hinggga mendapat sari patih yang tak terjamah. Pilihlah yang paling terbaik dari semuanya, berdirilah di tengah tapi jangan mengintip. Dia bisa mengetaui, toh dunia kita saat ini adalah dunia tempurung,. Lantunan lagu apalagi, semuanya termakan luka, semuanya teriris duka, hilang terasa jauh, datanglah lebih baik. Kembalikan lagu itu, tak sehat sebenarnya seperti ini. Tapi jangan menebak, kebanyakan dari kita hanya pintar menebak, seolah tak ada penulis yang berfikir, tak bisa bicara diamlah. Ohhhhh, tapi aku sayang pada mu. Aduuuuuuuhhhhh… aduuuuuhhhhh… aduuuuuuhhhh.. aduuuuuuhhh. Kesunyian teramat sakit, terlampau sakit, terlalu sakit. Mari menilai, kebenyakan dari kita hanya bisa menilai. Mari menulis, kebanyakan dari kita bisa menulis..

_ Rop Ebu Amona_

3 komentar: