12 Jan 2011

Melodiku yang Tak Lagi se-irama ( By. Arie Samal )


Jiwaku jatuh dalam jurang keapatisan, lemah dan tak berdaya apa-apa kemudian membiarkan penghuni lembah dengan bebasnya memangsa jiwaku yg hampir mati dalam keseharian. Petang ini aku belari dibawah rintik-rintik hujan, membiarkan diri dibasahi peluhnya sang mega yang berbentuk seperti Kristal yang pecah diatas selembar marmer. Dihadapanku laut luas menghempas, membiru disetiap pandangan yang tertuju.
Seberkas sinar mentari menerobos pekatnya mega kemudian menembus kehampan ruang-waktu dan melewati dalamnya kebiruan hingga Nampak bagiku akan karang yang tak lagi mewarni mempelangi. Kini aku menyaksikan fatamorgana yang terkontaminasi oleh serpihan uap laut yang melahirkan warna berbentuk metalik, sebuah warna yang sering kutemukan dalam gereja, mesjid, kuil, kampus dan lainnya.
Aku sadar akan segala kerinduan pada kebenaran yang membuatku jatuh dalam cinta yang terlarang oleh syarat yang diberikan dari kepala para manusia. Yang aku lihat hanyalah pembenaran, yang ku saksikan hanya selembar layar putih abu-abu kemudian terkamuflase menjadi pelangi oleh jemari gurita yang sering memijit daerah-daerah feminim juga maskulin tuk puaskan hasratnya.
Tapi kenapa aku dibiarakan bebas dalam keterbatasan? Seolah menghancurkan yang sacral jika aku bersuara mengikuti syair atau irama para pujangga yang mati dalam “ketakwajaran”. Biarkan saja aku menulis dan merangkai sebuah syair yang berbeda dengan mereka, dan palingkan saja mukamu jika melodi yang kurangkai tak menarik ditelinga dalam mu. Birakan saja aku menyanyi dalam bahasa yang tak bisa tervisualisasikan agar kebenaran tak ku pundang sebagai “yang hadir” dipermukaan seperti yang kau kira.
Hujan semakin menerjang, tapi angin kian menipis membuat gemericik enyah terdengar seperti kau menguyah keripik. Aku tak melihat setetes hujan mengeluh akan tanah yang tak lagi subur, aku tak melihat tanah tak lagi merindukan embun di fazar pagi. Tapi aku percaya akan bahasa mereka, aku percaya dengan tingakh mereka. Mereka hanya jatuh terpelanting kemudian menjadikan tanah sebagai dasar agar mereka bisa mengancurkan dan meluluhlantahkan segala biang kerasukan yang dibangun diatas mesin-mesin hasrat .
Aku malu pada setetes air yang masih saja menyanyikan keindahan. Malu pada langit yang menjingga yang sering muncul dibalik bukit. Lagu yang yang kurangkai belum bisa kunyanyikan sebab setiap irama telah mereka miliki. Aku terjatuh dalam seribu Tanya, kenapa melodiku telah berpaling dari sisiku ketika nynyian itu tak lagi terdengar? Harusnya ia ada dan mengiringi musikku agar nyanyian tentang penindasan kan merdu bak kicau sang merpati.
Melodiku ku yang tak lagi seirama denganku…. Apakah kau tak melihat aku yang telah menelanjangi diri dihadapan halayak? Apakah kau tak mendengar akan kebisuanku dalam batinmu?.. bukankah semua itu yang kau inginkan?. Kau mengajariku tentang keindahan, kau mengajarkanku tentang arti sebuah senyuman, kau menanamkan padaku cara bercocok tanam, kau mempraktikan padaku tentang cara merangkai kata dan nada-nada yang harmonis. Semua itu sudah ku lakukan. Walaupun belum sempurna tapi aku percaya akan keberhasilan disetiap usaha. Aku percaya akan rontoknya puing kebohongan jika dilempari dengan batu hitam seperti kau ajarkan padaku. Aku percaya jika para singa akan menyadari kebuasannya jika mendengar simfoni yang kau rangkai padaku. Tapi kenapa kau menghilang dariku disaat kedinginan merinduakan sebuah pelukan hangat?, kenapa kau padamkan citramu disaat aku sedang terhanyut dalam imaji oleh alunan merdumu?
Kini tulang belulangku tengah menagis menyaksikanku menulis jeritan ini, jiwaku yang terbentuk diatas jalanan telah kau musnhakan hingga menyisakan padaku akan “waktu” yang selalu beriotasi tanpa tervibrasi. Kini aku tengah merasakan hawa panas dari tubuh para manusia tapi aku seolah tak berdaya membiarkan diri kan terbaring diatas kanfas para pelukis yang hanya menjadi kesenangan estetik tuk dipandangi semata.
Melodiku … aku ingin menjadi dosa bagi mereka yang selalu membuat jiwaku menangis, tapi aku tak ingin menjadi dosa bagimu… aku “mencintaimu”, dan “cinta”ku padamu tidak terbatas pada metafora yang kaku yang sering dibahasakan para pujangga modern. Berikanlah kebebasan bagiku walaupun sedetik, kan kubuat kau kan kembali disisiku tuk bersama menyanyikan lagu yang tak merdu ditelinga para singa yang gemar memangsa. Berikanlah sehasta nada agar aku bisa kembali bernyanyi mencemohi music para keledai yang sering menindas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar